Jalur Mandiri Maba Dihapuskan? MAKI Menyerukan Penghapusan Jalur Mandiri di Semua PTN

Boyamin koordinator MAKI menyerukan untuk penghapusan jalur mandiri mahasiswa baru di PTN. (Dok.Media Indonesia)

epanrita.net – Potensi suap penerimaan mahasiswa baru PTN dalam jalur mandiri selalu terjadi, oleh sebab itu menurut koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia, Boyamin Saiman menilai, sebaiknya jalur mandiri tersebut dihilangkan.

Rektor Unila Prof Dr Karomani dan dua anak buahnya setelah menerima suap dari mahasiswa baru di jalur mandiri. Menanggapi hal itu, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menyerukan penghapusan jalur mandiri di semua perguruan tinggi negeri (PTN).

Bacaan Lainnya

“Saya setuju harus dihapuskan jalur mandiri, saya kira paling pas penerimaan mahasiswa baru itu satu jalur, artinya jalur penuh, udah nggak ada jalur mandiri, bisa jalur prestasi atau jalur berkaitan dengan ujian seleksi penerimaan, semua ikut di situ,” kata koordinator MAKI Boyamin Saiman saat dihubungi, Senin (22/8/2022).

Boyamin menilai jalur mandiri saat ini justru membuka peluang suap. Dia mengatakan, karena sulit mempertanggungjawabkan jika mahasiswa baru harus membayar uang yang lebih besar untuk masuh PTN.

“Paling tidak ada permasalahan ketika jalur mandiri ini kemudian menjadi ada uang yang lebih besar yang harus dibayarkan calon mahasiswa yang diterima jalur mandiri. Itu aja pertanggungjawabannya agak susah itu, gimana pencatatannya, dan lain sebagainya,” katanya.

“Dan itu menimbulkan peluang untuk terjadinya suap karena bisa saja diminta bayar Rp 50 juta, itu kemudian yang resmi, yang tidak resmi bisa aja Rp 100 juta,” imbuhnya.

Boyamin juga berpendapat bahwa jalur mandiri ini justru menimbulkan beban dan diskriminasi bagi siswa. Menurutnya, jalur mandiri hanya membuat siswa saling mengolok-olok.

“Bagi masing-masing pihak juga ada seperti suatu yang mengganjal, karena apa? Ini seperti jalur diskriminasi, ‘oh lu jalur ujian penuh, gua jalur mandiri’, seakan-akan dia lebih kaya bisa saja menjadi kelas berbeda, atau sebaliknya diolok-olok ‘lu masuk jalur mandiri pasti nyogok’,” ujarnya.

“Jadi ya maka harus dihapuskan saja jalur mandiri, itu satu satunya cara,” lanjut dia.

Walau demikian, Boyamin mengatakan ada solusi lain juga jika memang ingin mempertahankan jalur mandiri. Dia mengatakan harus ada pengawasan yang maksimal dan harus ada standar biaya resmi yang harus ditetapkan untuk masuk ke jalur mandiri.

“Kalau masih dipertahankan ya harus satu-kesatuan, harus lulus dulu, sistemnya diawasi betul sistem ujiannya, lulus dulu baru dia sanggup atau tidak membayar, dengan dipatok, nggak ada berapa sanggup bayarnya. Jalur mandiri misal Rp 50 juta atau Rp 100 juta, dipatok, tinggal nanti ambil ranking 1-40 untuk sekelas, itu aja caranya, nggak ada berani bayar berapa masuk, nggak berani bayar berapa nggak masuk, itu nggak boleh lagi,” ujarnya.

Korupsi Jalur Mandiri Jerat Rektor Unila

Menurut laporan sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), rektor UNILA, Prof Dr Karomani dan dua anak buahnya ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dalam kasus ini. Karomani dikabarkan mematok harga ratusan juta rupiah per mahasiswa yang ingin kuliah di Unila.

Karomani tidak melakukannya sendiri. Setidaknya ada dua orang yang diduga terlibat dengan Karomani (Wakil Rektor S1 Heryandi dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri), dan donatur Andi Desfiandi merupakan salah satu keluarga calon mahasiswa.

Pos terkait