Soal Kasus Brigadir J, Presiden RI Joko Widodo Menegaskan Tak Mau Lagi Berkomentar

Soal Kasus Brigadir J, Presiden RI Joko Widodo Menegaskan Tak Mau Lagi Berkomentar ( Dok. Kompas com )

epanrita.net – Presiden Joko Widodo mengatakan tidak akan berkomentar lebih jauh terkait pembunuhan Brigadir J atau Nofriansyah Yoshua Hotabarat.

Presiden memerintahkan kematian Brigadir Jenderal J. diumumkan di pengadilan.

Bacaan Lainnya

”Tetapi, saya tidak mau bicara lagi. Sudah berulang kali saya sampaikan,” ujar Presiden Jokowi kepada Harian Kompas di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (14/8/2022), sebagaimana dilansir dari Kompas.id, Kamis (18/8/2022).

Pada pertemuan ini, Presiden mengungkapkan Hal ini menjadi pendorong penting bagi polisi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut.

Oleh karena itu, dia menekankan bahwa kasus ini harus diungkap ke publik sampai akhir.

”(Pengusutan kasus kematian Brigadir J) ini momentum untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” tutur Jokowi.

“Jangan sampai momentum ini dilewatkan begitu saja, yaitu reformasi Polri untuk memperbaiki sistem selama ini,” lanjutnya.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah empat kali memerintahkan kematian Jenderal J.

Beberapa jam sebelum konferensi pers kapolri Sigit pada 9 Agustus yang mengungkap tersangka dan fakta baru kasus Brigadir J, Presiden meminta aparat penegak hukum tidak ragu-ragu.

Presiden Republik menekankan perlunya mengungkapkan kebenaran sebagaimana adanya.

“Ya sejak awal kan saya sampaikan, sejak awal kan saya sampaikan, usut tuntas. Jangan ragu-ragu. Jangan ada yg ditutup- tutupi. Ungkap kebenaran apa adanya , ungkap kebenaran apa adanya,” ujar Jokowi dalam keterangan pers yang diunggah YouTube Sekretariat Presiden.

Menurut Jokowi, semua upaya tersebut harus memastikan kepercayaan masyarakat terhadap polisi tidak berkurang.

“Sehingga jangan sampai menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap polri. Itu yang paling penting. Citra Polri apapun tetap harus kita jaga,” tegasnya.

Sebelum mengeluarkan pernyataan, Presiden Joko Widodo sempat menaruh perhatian pada kematian Brigadir J setidaknya tiga kali.

Komentar pertama Jokowi tentang masalah ini pertama kali disampaikan pada 12 Juli 2022.

Saat itu, kepala negara baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Balai Penelitian Padi di Subang, Jawa Barat.

Jokowi tidak berkomentar panjang lebar, hanya menekankan proses hukum.

“Proses hukum harus dilakukan,” ujarnya saat itu.

Kemudian, sehari kemudian, pada 13 Juli 2022, saat bertemu dengan sejumlah redaktur media di istana, Presiden menekankan masalah keterbukaan dalam menangani masalah ini.

”Tuntaskan, jangan ditutupi, terbuka. Jangan sampai ada keraguan dari masyarakat,” kata Jokowi saat itu sebagaimana dilansir dari Kompas.id.

Apalagi, dalam kunjungannya ke Pulau Rinca di Nusa Tenggara Barat pada 21 Juli 2022, Presiden kembali menegaskan bahwa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi jika terjadi kematian Brigadir J.

Dia juga mengingatkan presiden bahwa kepercayaan masyarakat kepada polisi harus ditegakkan.

“Saya kan sudah sampaikan, usut tuntas. Buka apa adanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Transparan. Udah,” kata Jokowi.

“Itu penting agar masyarakat tidak ada keragu-raguan terhadap peristiwa yang ada. Ini yang harus dijaga, kepercayaan publik terhadap polri harus dijaga,” tegasnya.

Pos terkait