Ini Penyebab Biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung jadi Bengkak Sebesar Rp118 T

Ini Penyebab Biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung jadi Bengkak Sebesar Rp118 T ( Dok. Makassar Terkini )

epanrita.net – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCKB) Mengalami Pembekakan Sebesar Rp118 T, Berikut Ini Penyebab dari Pembekakan Tersebut.

Biaya pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCKB) membengkak dari rencana semula. Perkiraan biaya konstruksi saat ini adalah UD$7,9 miliar atau Rp 118,5 triliun (dengan asumsi nilai tukar Rs 15.000 per dolar AS).

Bacaan Lainnya

Total biaya pengembangan terbaru ini lebih tinggi dari yang ditentukan. Dalam tawaran yang diajukan oleh pemerintah China pada tahun 2015, Negara Tirai Bambu menawarkan UD$5,13 miliar untuk mengembangkan proyek tersebut. Penawaran ini lebih murah dari Jepang yang menawarkan US$6,2 miliar.

Akan tetapi, menurut perhitungan terakhir PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, ada kenaikan biaya hingga US$ 1,9 miliar atau Rp 28,5 triliun untuk proyek KCJB. Oleh karena itu, anggaran pembangunan maksimal yang dibutuhkan adalah Rp 118,5 triliun.

China Development Bank (CBD), pemegang saham proyek tersebut, juga meminta Indonesia untuk bergabung dalam menanggung pembengkakan biaya tersebut.

“Beberapa waktu lalu disampaikan adanya cost of run. Tentang cost of run ini setahu saya masih dibahas. Karena ada permintaan cost of run ini agar dicover oleh pemerintah Indonesia,” Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo dalam konferensi pers, Selasa (26/7).

Permohonan tersebut masih dalam pembahasan dengan Kementerian Keuangan, apakah nanti anggaran negara akan ikut dalam biaya yang membengkak ini atau tidak.

“Terkait hal ini, teman-teman dari Kemenkeu baru membahas yang merupakan bagian kewajiban kita untuk kontribusi dalam pembangunan, bukan cost of run,” jelasnya.

Namun, Wahyu memastikan proyek KCJB akan selesai pada 2023. Sekarang sebagian besar pekerjaan konstruksi telah selesai, yang tersisa hanyalah pekerjaan depo nya saja.

“Tapi kami yakin, komitmen dari pemerintah Indonesia, bahwa kereta cepat ini harus segera dioperasikan. Mudah-mudahan di tahun 2023 (bisa dioperasikan),” pungkasnya.

Pada sebelumnya, APBN berkontribusi dalam pembangunan KCJB dengan menyediakan anggaran sebesar Rp 4,1 triliun melalui penyertaan modal negara (PMN). Padahal, seperti yang dijanjikan Presiden Jokowi saat itu, pembangunan ini tidak membutuhkan biaya sepeser pun dari APBN.

Pos terkait