KPK Geledah Unila 4 Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Suap Penerimaan Mahasiswa Baru

KPK melakukan penggeledahan ke Universitas Lampung, 4 orang ditetapkan sebagai tersangka. (Dok.Kompas com)

epanrita.net – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mencari barang bukti baru kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri Universitas Negeri Lampung (Unila).

KPK melakukan penggeledahan paksa di beberapa lokasi di sekitar kampus Universitas Lampung (Unila). Kegiatan ini dilakukan imbas Rektor Unila, Prof Dr Karomani yang baru-baru ini tertangkap KPK dalam OTT.

Bacaan Lainnya

“Benar hari ini (22/8) tim penyidik melakukan upaya paksa penggeledahan di beberapa lokasi di lingkungan Unila Lampung,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Senin (22/8/2022).

Ali mengatakan, kegiatan tersebut masih berlangsung. Dia mengatakan dia akan menyampaikan hasilnya dalam penelitian ini.

“Kegiatan saat ini masih berlangsung dan kami akan sampaikan nanti perkembangannya,” tutup Ali.

Dalam kasus ini, KPK menangkap empat tersangka:

  1. Karomani sebagai Rektor Universitas Lampung (Unila).
  2. Heryandi sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila.
  3. Muhammad sebagai Ketua Senat UNILA.
  4. Andi Desfiandi sebagai swasta.

Awalnya, pada tahun 2022, Unila mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Unila juga membuka jalur khusus, pilihan independen untuk maju ke Unila atau Simanila.

Otoritas Karomani sebagai Rektor Unila terkait dengan Mekanisme Simanila. Dalam prosesnya, Karomani diduga terlibat langsung dalam keputusan wisudawan peserta Simanila.

Karomani dapat mengikuti seleksi personal dengan meminta Heryandi sebagai Wakil Rektor I dan Budi Sutomo sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Humas serta melibatkan Muhammad Basri sebagai Ketua Senat. Jika seorang mahasiswa ingin mengumumkan kelulusan sesuai dengan kemampuan orang tua, mereka dapat mendaftar dengan memberikan jumlah selain jumlah yang dibayarkan secara resmi sesuai dengan sistem yang ditetapkan oleh universitas. Karomani menugaskan ketiga orang tersebut tugas khusus untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan orang tua peserta Simanila sebelumnya berdasarkan penilaian yang disiapkan oleh Karomani.

Jumlah yang disepakati berkisar antara Rp 100 juta hingga Rp 350 juta per orang. Andi Desfiandi, salah satu keluarga calon peserta Simanila, diduga menghubungi Karomani dan menawarinya Rp 150 juta karena keluarganya telah dinyatakan lulus dengan bantuan Karomani.

Uang tersebut dikumpulkan Karomani ke seorang pria bernama Mualimin sebagai dosen. KPK mengatakan Karomani telah mengumpulkan Rs 630 juta ke Mualimin dan Rp 575 juta digunakan untuk kebutuhan pribadi.

Karomani juga dituduh mengumpulkan uang melalui Bodi Sotomo dan Muhammad Basri. Uang ini dialihkan ke emas batangan, deposito tabungan, dan tetap dalam bentuk uang tunai senilai sekitar Rp 4,4 miliar hingga saat ini.

Akan tetapi, dalam proses penangkapan OTT, KPK menemukan barang bukti uang tunai Rp 414,5 juta. slip setoran bank sebesar Rp 800 juta, Kuncinya adalah brankas yang diperkirakan berisi emas senilai Rp 1,4 miliar. Ada juga barang bukti lain berupa kartu ATM dan rekening tabungan berisi Rp 1,8 miliar.

Karomani didakwa dengan Heryandi dan Muhammad Basri atas perbuatannya (Pasal 31, Pasal 12 A atau B atau 11, 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, 2001, Pasal 11). UU Pemberantasan Korupsi. Berdasarkan Pasal 55 Ayat 1 sd 1 KUHP. Sedangkan Andi Disfiandi ditangkap sebagai pemberi berdasarkan Pasal 5(1) A, 5(1) B atau 13 UU Pemberantasan Korupsi.

Pos terkait