Ngeri Geng Tembak Pasien Hingga Tewas! Rumah Sakit di Haiti Jadi Sasaran Kelompok Bersenjata

Rumah Sakit di Haiti jadi sasaran bentrok antar geng. (Dok.Suara com)

epanrita.net – kekerasan antar geng di ibu kota Haiti, Port-au-Prince, menewaskan 89 orang dalam sepekan. Kekerasan ini terjadi ketika harga-harga kebutuhan pokok naik, pasokan bahan bakar minyak langka, dan perang antar geng meningkat.

Orang-orang bersenjata menyerbu sebuah rumah sakit di pinggiran kota Port-au-Prince, ibu kota Haiti. Mereka membawa pasien ke luar rumah sakit sebelum menembaknya hingga tewas.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari kantor berita AFP, Doctors Without Borders, pembunuhan itu terjadi di Rumah Sakit Rapul Pierre Louis di Carrefour, di pinggiran selatan ibu kota Haiti.

“Di ruang gawat darurat yang didukung oleh Doctors Without Borders, orang-orang ini yang bersenjatakan pistol menangkap seorang pasien dan dengan keji mengeksekusinya di luar rumah sakit,” kata MSF dalam sebuah pernyataan.

Tidak ada rincian yang diketahui mengenai identitas penembak atau pasien. Polisi Haiti tidak segera menanggapi permintaan komentar dari AFP.

“Ini adalah pertama kalinya kami merekam insiden seperti itu, di mana orang-orang bersenjata menyerbu salah satu pusat kami untuk melakukan tindakan seperti itu,” ujar Michel Alexandre, kepala komunikasi MSF di Haiti kepada AFP.

Alexandre menuntut “penghormatan” terhadap misi dan staf organisasi itu. Dia mengatakan organisasi harus menutup sementara fasilitas “untuk menilai situasi” jika insiden kekerasan berlanjut.

Fasilitas MSF lainnya sebelumnya di Port-au-Prince baru-baru ini ditutup setelah seseorang ditembak di dekatnya.

Pada Juni 2021, penembakan terjadi di rumah sakit MSF di Martissant, pinggiran selatan Port-au-Prince, tempat geng-geng yang bersaing sering bentrok.

Dua bulan kemudian, LSM mengumumkan bahwa rumah sakit telah ditutup setelah 15 tahun beroperasi karena kerusuhan dan telah pindah ke pusat kota Port-au-Prince.

Haiti jatuh ke dalam krisis politik setelah pemilihan umum 2016, diperburuk oleh pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021.

Geng ini beroperasi dengan kebal hukum yang meluas dan telah berkembang melampaui daerah kumuh ibu kota Haiti karena kekerasan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pos terkait