TKI di Inggris Dijebak Kerja Paksa, Buruh Indonesia Dikenai Utang Hingga 90 Juta!

WNI di Inggri dijebak kerja paksa hingga dikenai utang 5000 pound. (Dok.Liputan6 com)

epanrita.net – Buruh Indonesia diduga mengalami “kerja paksa” di pertanian Inggris. Para buruh dikabarkan terjerat utang dalam jumlah besar dari broker atau perantara pencari pekerja.

Warga negara Indonesia yang bekerja sebagai pemetik buah di Inggris terancam kerja paksa. Mereka mengaku dikenai utang hingga 5.000 pound atau Rp 89,1 juta, untuk bekerja di negara itu selama satu musim.

Dilansir dari The Guardian, hal tersebut terjadi di perkebunan wilayah Kent, Inggris bagian tenggara, Clock House Farm. Produk ini dipasok ke beberapa perusahaan antara lain Marks & Spencer, Waitrose, Sainsbury’s dan Tesco.

Awalnya, mereka diberi kontrak dan dibayar 300 pound (Rp 5,3 juta) per minggu tanpa jam kerja. Hal ini disebabkan oleh pengurangan biaya menggunaan sejumlah fasilitas.

Akan tetapi, utang muncul ketika mereka tetap harus mengembalikan sejumlah uang untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk pesawat dan visa. Beberapa pekerja mengatakan mereka harus membayar ribuan pound ekstra kepada broker (calo) Indonesia yang menjanjikan keuntungan besar. yang di bawah undang-undang ketenagakerjaan Inggris merupaka praktik ilegal.

Seorang warga negara Indonesia mengungkapkan dia tidak punya pilihan selain menjadikan rumah keluarganya di Bali sebagai jaminan. Untuk penjamin utang dan takut kehilangan rumahnya.

“Sekarang saya bekerja keras hanya untuk membayar kembali uang itu… Saya kadang tidak bisa tidur. Saya memiliki keluarga yang membutuhkan dukungan saya untuk makan dan sementara itu, saya memikirkan utang,” katanya dikutip Selasa (16/8/2022).

Diketahui, munculnya WNI yang bekerja di Inggris disebabkan oleh krisis tenaga kerja akibat Brexit dan perang Ukraina. Banyak perkebunan yang akhirnya mempekerjakan pekerja di luar Eropa.

Menurut The Guardian, AG Recruitment menawarkan WNI yang bekerja di Kent. Ini adalah salah satu dari 4 agen pemberi lisensi teratas di Inggris dengan visa pekerja musiman.

AG sendiri diketahui membantah melakukan pelanggaran. Perusahaan itu mengatakan tidak tahu apa-apa tentang broker Indonesia yang memungut uang itu.

“AG awalnya berencana untuk merekrut dari Ukraina dan Rusia tetapi mengubah rencananya ketika ada perang kedua negara pada Februari, beberapa minggu sebelum musim panen akan dimulai,” tulis media tersebut.

“Tahun lalu hampir 20.000 orang Ukraina datang ke Inggris dengan visa pekerja musiman, dua pertiga dari semua yang datang melalui skema tersebut.

“AG tidak memiliki pengalaman sebelumnya di Indonesia dan mencari bantuan dari Al Zubara Manpower yang berbasis di Jakarta, yang juga meminta bantuan dari broker lain yang rupanya memungut biaya selangit,” tambah media itu mengutip salah satu agen Al Zubara..

Tidak hanya melalui broker, tenaga kerja Indonesia masih harus membayar 2.500 pound (sekitar Rp 44 juta). Untuk biaya pelatihan dan visa.

Disisi lain, pakar hak-hak migran Inggris mengatakan situasinya pada dasarnya adalah kerja paksa. Kementerian Dalam Negeri Inggris dan Otoritas Penyalahgunaan Geng dan Buruh (GLAA) saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut.

Tidak ada konfirmasi dari Clock House Farm. Namun, Marks, Spencer, Waitrose, Sainsbury’s dan Tesco mengatakan mereka telah meluncurkan penyelidikan mendesak atas masalah tersebut.

Pos terkait