Perusahaan di Jakarta Belum Mengambil Keputusan Tentang Jam Kerja Dimundurkan

Ada Usulan Jam Ngantor di Jakarta Mundur, Pak Bos Setuju? (dok: VOI)

epanrita. net – Polda Metro Jaya menyampaikan upaya untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta dengan merelokasi jam kerja karyawan Jakarta. Karyawan didorong untuk bekerja lembur.

Usulan ini disampaikan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman. Menurut pengamatannya, pekerja dan mahasiswa bergerak secara bersamaan sehingga mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Jadi, jam kerja para karyawan tertunda agar waktu berangkat kerja tidak menumpuk di pagi hari.

Pengusaha itu mengaku akan terus mempelajari proposal tersebut. Mereka belum menyatakan setuju atau menolak tawaran Polda Metro Jaya.

Kami sih apresiasi rencana Polda Metro Jaya untuk mencairkan kemacetan di DKI Jakarta. Kami masih pertimbangkan semuanya. Otomatis kami pun mau regulasinya dulu yang jelas. Ya kami melihat situasinya seperti apa lah, cuma tetap kami apresiasi niatan ini,” ucap Wakil Ketua DPP Apindo DKI Jakarta, Nurjaman kepada detikcom, Jumat (12/8/2022).

Nurjaman mengaku menghadiri rapat yang membahas usulan Polda Metro Jaya untuk mengatur ulang jam “kantor”. Menurutnya, banyak risiko yang membayangi penerapan kebijakan ini dari dunia pengusaha.

Ia mengatakan, salah satu kekhawatiran yang bisa muncul adalah karyawan akan kurang produktif jika datang terlambat. Secara psikologis, kata dia, pekerjaan setiap karyawan akan lebih terfokus pada pekerjaan di pagi dan siang hari. Bekerja dari siang hingga sore dapat membuat pekerja kurang produktif.

Paling risiko ini bisa turunkan produktivitas, kalau sudah turun kan pertumbuhan ekonomi bisa menurun. Karena tingkat kenyamanan kerja, tingkat semangat kerja ini makin siang makin sore ini makin berkurang. Konsentrasi itu berkurang,” ucap Nurjaman.

Operator transportasi juga harus mengerjakan pekerjaan rumah ekstra untuk memberikan layanan hingga larut malam. Nurjaman khawatir ini akan sulit.

Kalau masuk jam 11 pulang 7, atau lebih siang dan pulang lebih malam, apakah fasilitas bisa disiapkan? Transportasi misalnya bisa nggak semalam mungkin antar sampai ujung,” ujar Nurjaman.

Isu berikutnya adalah keselamatan dan kesehatan pekerja. Apalagi para pekerja yang rumahnya sangat jauh dari Jakarta Pusat, yang juga dikenal sebagai daerah pinggiran Jakarta.

Menurut Nurjaman, hanya 30% penduduk Jakarta yang bekerja di kota tempat mereka tinggal. Sementara itu, 70% orang “bekerja” Jakarta berasal dari buffer zone. Dari Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi hingga Karawang.

Belum keamanannya, kan karyawan ini banyak perempuan, rawan kan kalau pulang larut. Lalu dikhawatirkan juga kesehatan karyawan, kalau dia bawa motor misalnya pulang malam, kan harus diperhatikan kesehatan karyawan juga,” kata Nurjaman.

Pos terkait